Gunung
itu menjulang begitu tinggi hingga puncaknya seperti menembus langit dengan
awan-awan yang mengitarinya. Begitu tegar berdiri ia, ungu dengan lerengnya
tertutup lapisan-lapisan kabut yang mendekap lembut seperti selimut. Sunyi,
hanya suara-suara angin yang berbisik, sesekali lirih binatang-binatang hutan
menambah misteri dan membawa suasana ke dunia gaib yang tersembunyi.
Nun
di kakinya berdiri sesosok manusia. Wajahnya yang teguh begitu dingin dengan
mata yang setajam belati. Sepintas ia seperti manusia biasa berusia dua
puluhan. Hanya saja rambutnya yang sudah keperakan tak bisa sembunyikan usia
yang sebenarnya. Dari sorot matanya yang setajam belati berlompatan kenangan
hidup yang berabad-abad lamanya. Dari peluh yang membasahi tubuh dan wajahnya
terlihat perjalanannya yang panjang. Adakah ia datang dari puncak gunung? Dari
puncak yang menembus langit?
Angin
yang mengalir di sela-sela daun begitu terusik keingintahuannya. Dengan
perlahan ia mengitari sosok manusia itu yang masih berdiri menatap tajam pada
desa-desa dan kota-kota manusia yang ada di kaki gunung, seperti mencari
sesuatu. Angin masih mengitarinya. Mencoba mengambung aroma tubuhnya,
meraba-raba kulit tubuhnya, mencari tahu, siapa gerangan sosok manusia
laki-laki bersorot mata belati ini? Adakah wajahnya yang teguh dan dingin ini
mencari sesuatu?
Sosok
manusia laki-laki itu kemudian duduk di atas batu di dekatnya. Membiarkan saja
dan tak peduli pada angin yang mengitarinya. Matanya yang belati itu masih
menatap tajam ke bawah, menatap tajam pada desa-desa dan kota-kota manusia,
seperti mencari sesuatu. Angin masih mengalir dan mengitarinya, mencari tahu.
Hingga pada batas kesabaran, sang angin bertanya,
“Siapa
gerangan wahai Anda, saudara?”
Sosok
manusia laki-laki itu tak menjawab. Wajahnya yang teguh masih begitu dingin dan
beku.
“Adakah
kau datang dari puncak gunung?”
Sosok
manusia laki-laki itu menghela napas, begitu dalam. Angin yang begitu penasaran
tak berniat menyerah.
“Wahai
saudara, aku tak mengerti bahasa mata.”
“Aku
tak memintamu untuk mengerti,” sosok manusia laki-laki itu akhirnya bersuara.
“Adakah
kau manusia?”
“Aku
manusia. Dan akulah sang guru.”
“Benarkah?
Siapa muridmu?”
“1.000
manusia.”
“Yang
mana?”
“1.000
manusia di antara semua manusia.”
“Siapa
saja mereka?”
“Kau
tak akan tahu.”
“Di
mana muridmu?”
“Akhirat
menginginkan mereka.”
“Surga
atau neraka.”
“Bukan
urusanmu.”
“Kau
sedang mencari mereka?”
“Hanya
satu.”
“Di
mana yang lain?”
“Akhirat
menginginkan mereka.”
“Sudah
berapa lama kau menjadi guru?”
“Berabad-abad
sebelum keingintahuanmu menggangguku.”
“Mengapa
kau mencari muridmu?”
“Untuk
kubunuh.”
“Mengapa?”
“Melakukan
kesalahan.”
“Apa
kesalahannya?”
“Kesalahannya
adalah melakukan kesalahan.”
“Rumit
sekali.”
“Aku
tak memintamu untuk mengerti.”
“Sudah
berapa murid yang kau bunuh?”
“999.”
“Mengapa?”
“Melakukan
kesalahan.”
“Haruskah dengan membunuh?”
“Melakukan
kesalahan bukanlah yang kuajarkan.”
“Mungkin
mereka khilaf.”
“Kekhilafan
juga kesalahan.”
“Mengapa
tak kau maafkan?”
“Hati
manusia terlalu rapuh untuk mencerna kesalahan.”
Matahari
mulai condong ke barat. Desa-desa dan kota-kota manusia perlahan mulai tertutup
kabut. Sosok manusia laki-laki itupun mulai tertutup kabut. Namun angin tak mau
menyerah.
“Apa
yang kau ajarkan kepada
muridmu?”
“Semua
hal kecuali melakukan kesalahan.”
“Manusia
tak sempurna.”
“Aku
tahu.”
“Kenapa
tak kau maafkan?”
“Melakukan
kesalahan bukanlah yang kuajarkan.”
“Keras
kepala.”
“Aku
tahu.”
“Sudahlah.
Kau hanya beralasan saja.”
“Aku
tak memintamu untuk mengerti.”
“Aku
mengerti.”
“Kau
tak mengerti.”
“Kau
ingin membunuh muridmu, kan?”
“Bukan
urusanmu.”
“Kau
tak menerima kesalahan, kan?”
“Bukan
urusanmu.”
“Oh,
wahai guru. Betapa kejamnya dirimu.”
“Aku
tak memintamu untuk mengerti.”
Angin
pergi. Malam merambat turun dengan tenangnya. Desa-desa dan kota-kota manusia
tak terlihat lagi. Sosok manusia laki-laki bermata belati tak terlihat lagi.
Angin pergi.
--------
Malam berlalu dan matahari cahayanya jamahi lagi kabut-kabut yang mulai
terbunuh, sang angin kembali. Dihampirinya sosok manusia bermata belati yang
masih berada di tempatnya semula. Menatap tajam pada desa-desa dan kota-kota
manusia, mencari sesuatu.
“Belum
kau bunuh?”
“Bukan
urusanmu.”
“Kapan
kau akan membunuh?”
“Kau
akan tahu.”
“Mau
kubantu?”
“Bantu
saja dirimu.”
“Mengapa?”
“Kau
akan tahu.”
“Di
mana muridmu?”
“Di
antara manusia.”
“Yang
mana?”
“Kau
akan tahu.”
“Manusia
bisa salah bisa benar.”
“Salah
adalah salah, benar adalah benar.”
“Haruskah seperti itu?”
“Melakukan
kesalahan bukanlah yang kuajarkan.”
“Mengapa
selalu seperti itu?”
“Mau
jadi muridku?”
“Nanti
aku kau bunuh.”
“Berarti
kau akan melakukan kesalahan.”
“Kau
bisa mengajariku untuk tidak melakukan kesalahan?”
“Kau
tak akan mampu.”
“Mengapa?”
“Aku
tak mengajar angin.”
“Aku
tak mengerti. Mengapa angin tak boleh belajar darimu?”
“Aku
tak memintamu untuk mengerti.”
Angin
pergi. Begitu kesal berputar-putar keras melabrak daun, melabrak rumput,
bertiup kencang ke segala arah. Mendengung-dengung. Menyambar ke semua arah.
Melarung desa-desa, melarung kota-kota, hutan-hutan, lembah-lembah,
bukit-bukit, dan menerjang ke semua benua dan semua samudera selama berabad-abad lamanya. Setelah lelah
ia kembali ke tempat sosok manusia laki-laki bermata belati yang menatap tajam
ke desa-desa dan kota-kota manusia, mencari sesuatu.
“Belum
kau bunuh?”
“Apa
kau sudah lelah?”
“Benarkah
kau guru?”
“Aku
punya murid.”
“Aku
benci kepadamu.”
“Cintailah
kebenaran.”
“Aku
bukan makhluk sempurna. Murid-muridmu juga tak sempurna. Kau juga tak sempurna.
Semua makhluk tak sempurna. Mengapa tak boleh salah? Mengapa harus selalu benar?
Bagaimana kalau aku tak tahu kalau aku salah? Bagaimana kau bisa tahu bahwa aku
ingin berbuat benar? Bagaimana kau tahu kalau murid-muridmu juga ingin berbuat
benar dan tak ingin berbuat salah? Mungkin saja dengan berbuat salah akan
membawa kita kepada
kebenaran. Mungkin saja kebenaran didapat setelah melakukan
kesalahan-kesalahan. Tak ada yang sempurna.”
Angin
pergi. Amarahnya melontarkannya jadi serpihan-serpihan yang menyebar ke segala
arah.
Sosok
manusia laki-laki bermata belati itu masih diam. Berabad-abad sudah ia seperti
itu. Diam dan terus mencari. 999 murid telah dibunuhnya. Ia akan menggenapinya
setelah membunuh yang keseribu. Matanya yang belati menyorot tajam. Ia temukan
apa yang telah berabad-abad dicarinya. Dengan gegas ia bangkit berdiri.
Dihimpunnya seluruh kekuatan alam dalam tubuhnya. Menciptakan beliung yang
berpusat di dadanya. Jubahnya berkibar-kibar. Ia rasakan desiran lembut angin
di tengkuknya. Ditatapnya langit yang tinggi dan biru.
“Adakah
kesempurnaan adalah bersandingnya kebenaran dan kesalahan?”
Jubahnya
masih berkibar-kibar. Matanya yang belati menatap lurus, lurus ke puncak
gunung.


No comments:
Post a Comment