Cicak di Dinding - libitium

Home Top Ad

Wednesday, July 17, 2019

Cicak di Dinding


Cicak di Dinding

Cicak-cicak di dinding
Diam-diam merayap ...
“Adakah kau lihat cicak itu, sayangku?” Sang prabu mendekap tubuh wanita itu di pembaringan. Matanya terserap pada ulah sepasang cicak yang merayap di dinding.
“Ya, aku melihatnya. Kenapa Kakanda?”
Sang prabu tak menjawab. Tak sepatah katapun yang menyambangi pertanyaan wanita itu. Sepasang cicak di dinding telah menyekap seluruh pandangannya, seluruh perhatiannya, bahkan dari wanita dalam dekapannya sekalipun.
“Kakanda, aku melihatnya. Mengapa?”
Wanita itu merasa tak dipedulikan. Ia mulai merasa sepasang cicak lebih berarti ketimbang kehadirannya. Sepasang cicak merayap di dinding istana. Sementara dirinya, tubuhnya telah berada dalam dekapan. Adakah hati sang prabu yang dipuja dan dicintainya dengan seluruh sumpah telah terampas oleh sepasang cicak yang merayap di dinding?
“Kakanda, aku melihat sepasang cicak di dinding. Ada apa dengan itu, Kakanda?”
Adakah sakit yang lebih sembilu ketimbang tidak dipedulikannya seorang wanita yang telah ada dalam dekapan? Seperti saja udara yang kerap dihirup, namun tak pernah ada dalam perhitungan. Seperti saja hidangan di atas meja yang dibiarkan tak tersentuh dan menjadi dingin oleh waktu.
“Adakah kau lihat cicak itu, Sayangku?”
“Kakandaku, sedari tadi aku telah melihatnya. Ada apa dengan itu?”
Diguncang-guncangnya tubuh sang prabu. Namun laki-laki itu tak juga menjawab pertanyaannya. Tubuh dan seluruh jiwa laki-laki itu seperti telah tersihir oleh ulah sepasang cicak yang merayap di dinding. Ia merasa dirinya telah dihina. Ia merasa dirinya dicampakkan.
Cicak-cicak di dinding
Diam-diam merayap
“Adakah kau lihat cicak itu, Sayangku?”
Ada tawa yang tertahan. Ada tangis yang menghujan.
“Aku melihatnya Kakanda. Aku juga melihat api yang menjalar di antara cinta dan sumpah dewa-dewa.” 
Waktu berlari entah ke mana. Meninggalkan sang prabu dan wanita yang terbakar api pada matanya. Waktu terus berlari, membawa kesumat dan sepasang cicak.
------------------------
Cicak-cicak di dinding
Diam-diam merayap
Malam mulai tua persendiannya. Bulan terlalu renta untuk menampakkan diri pada malam hari. Waktu berjalan lambat. Jarum pada jam antik di dinding ruang tamu orang tua itu seakan terlalu berat untuk berputar. Ada sepasang cicak yang muncul dari balik jam antik itu. Merayap di dinding lantas begitu saja berhenti. Entah mengapa ia merasa cicak itu seakan sedang memperhatikannya.
“Maaf, Pak. Malam-malam begini saya mengganggu Bapak.
Laki-laki itu berusaha untuk bersikap sopan kepada orang tua yang duduk di hadapannya. Orang tua itu hanya manggut-manggut. Pipa rokoknya begitu erat terapit di antara bibirnya yang coklat. Ada asap yang mengepul, lantas mengalir seiring alur napasnya yang tua.
Laki-laki itu menjadi gugup di hadapan ketenangan orang tua itu. Segala susunan kata-kata yang telah dipersiapkannya dari rumah seolah menguap dan terbang entah ke mana bersama asap rokok yang dihembuskan orang tua itu.
“Boleh saya juga merokok, Pak?”
Laki-laki itu berusaha membunuh ketergugupannya. Ia merasa dengan menghirup rokok akan menenangkan dirinya. Meredakan ketergugupannya. Orang tua itu hanya mengangguk-angguk. Sepasang cicak di dekat jam dinding antik di ruang tamu itu masih belum beranjak dari tempatnya. Masih diam dan seperti masih menunggu sesuatu yang entah apa.
Laki-laki itu menyalakan sebatang rokok di jarinya. Menghirupnya dalam-dalam dan melepaskannya seiring alur napasnya. Ada sesuatu yang sepertinya melapangkan rongga dadanya. Entah apa.
“Sudah berapa lama kau bersama dengan anak gadisku?”
Tiba-tiba orang tua itu bersuara. Begitu berat suara itu dan memaksa laki-laki itu untuk menjawabnya dengan segala kejujuran yang dimilikinya. Ada berjuta pengalaman hidup yang mengalir bersama suara itu. Begitu berat menekan pundak laki-laki itu.
“Sudah… sudah lima tahun, Pak.
Laki-laki itu seperti terjebak pada ketergugupannya semula.
“Lalu apa rencanamu? Kapan kau akan menikahinya?”
“Saya ingin melamarnya, Pak. Maksud saya, bolehkah saya melamarnya saat ini, Pak?”
Orang tua itu hanya diam dengan anggukan-anggukannya yang begitu sulit untuk diterjemahkan. Ada kepulan asap yang mengalir seiring tarikan napasnya.
“Aku tak akan menghalangi kalian jika kalian memang berjodoh. Tanyakan saja langsung kepadanya apakah ia mau untuk kau jadikan istri.
Orang tua itu bangkit dari duduknya, melangkah ke belakang dan memanggil seseorang yang sedari tadi berada di sana. Seorang gadis muncul dari belakang memasuki ruang tamu itu dan mengambil tempat duduk di hadapan laki-laki itu.
“Bapak sudah mengatakan sesuatu kepadamu?”
“Bapak tak mengatakan apa-apa. Ia hanya memanggilku ke depan untuk menemuimu. Kata Bapak ada yang ingin kau tanyakan kepadaku.”
“Kita sudah lama bersama. Aku merasa sudah saatnya melamarmu. Maukah kau menjadi istriku?”
Gadis itu tak langsung menjawab. Ia sendiri merasa heran mengapa ia tak langsung menjawab. Ada sesuatu yang entah mengganggu hatinya. Mengganjal di benaknya dan menahan segala keputusannya.
Laki-laki itu menjadi gugup kembali. Adakah kebersamaannya selama ini masih dinilai kurang untuk meyakinkan gadis yang ada di hadapannya? Adakah gadis ini hanya mempermainkannya, mempermainkan waktu dan harapan yang tumbuh mekar setiap kali ia menyambangi gadis itu? Pada hirupan asap rokok yang kesekian belum ada juga jawaban yang keluar dari bibir gadis itu. Pada hirupan asap rokok yang kesekian laki-laki itu menengadahkan kepalanya melihat jarum jam pada jam antik di dinding ruang tamu itu. Pada saat itulah ia melihat sepasang cicak  tadi masih berada pada tempatnya. Seperti membatu menunggu waktu dan kepastian yang begitu jemu untuk ditunggu.
“Sumbi, adakah kau lihat cicak itu, Sayangku?”
“Aku melihatnya, sedari dulu aku telah melihatnya dan aku juga tahu bahwa kau akan mengajukan pertanyaan itu kepadaku.”
“Sejak kapan kau melihatnya?”
“Sejak sumpah membunuh cinta. Saat api menghanguskan hati yang perih.”
“Apa yang kau katakan? Aku tak mengerti. Aku hanya ingin memastikan kepadamu. Maukah kau menjadi istriku?”
“Kau tak mengingatnya? Bahkan pada api yang menyalakan sumpah untukmu, Sayangku?”
“Sudahlah Sumbi. Maukah kau menjadi istriku?”
“Baiklah. Jika memang kau ingin agar aku menjadi istrimu. Aku ingin mengajukan satu syarat untukmu.”
“Mengapa harus dengan syarat? Tidak cukupkah rasa cintaku kepadamu?”
“Aku juga mencintaimu. Dan dulupun aku mencintaimu. Aku hanya ingin menjadi lebih berarti. Aku ingin diriku dianggap dan diperjuangkan. Jika kau sanggup, aku bersedia untuk menjadi istrimu. Itupun jika kau memang mencintaiku.”
“Aku mencintaimu. Apa pun akan kulakukan untukmu.”
“Baiklah, sebelum fajar menyingsing esok hari, bunuhlah seribu cicak untukku.”
Cicak-cicak di dinding
Diam-diam merayap ....

No comments:

Post a Comment