Cicak-cicak di dinding
Diam-diam merayap ...
“Adakah
kau lihat cicak itu, sayangku?” Sang prabu mendekap tubuh wanita itu di
pembaringan. Matanya terserap pada ulah sepasang cicak yang merayap di dinding.
“Ya,
aku melihatnya. Kenapa Kakanda?”
Sang
prabu tak menjawab. Tak sepatah katapun yang menyambangi pertanyaan wanita itu.
Sepasang cicak di dinding telah menyekap seluruh pandangannya, seluruh
perhatiannya, bahkan dari wanita dalam dekapannya sekalipun.
“Kakanda,
aku melihatnya. Mengapa?”
Wanita
itu merasa tak dipedulikan. Ia mulai merasa sepasang cicak lebih berarti
ketimbang kehadirannya. Sepasang cicak merayap di dinding istana. Sementara
dirinya, tubuhnya telah berada dalam dekapan. Adakah hati sang prabu yang
dipuja dan dicintainya dengan seluruh sumpah telah terampas oleh sepasang cicak
yang merayap di dinding?
“Kakanda,
aku melihat sepasang cicak di dinding. Ada apa dengan itu, Kakanda?”
Adakah
sakit yang lebih sembilu ketimbang tidak dipedulikannya seorang wanita yang
telah ada dalam dekapan? Seperti saja udara yang kerap dihirup, namun tak pernah ada dalam perhitungan.
Seperti saja hidangan di atas meja yang dibiarkan tak tersentuh dan menjadi
dingin oleh waktu.
“Adakah
kau lihat cicak itu, Sayangku?”
“Kakandaku,
sedari tadi aku telah melihatnya. Ada apa dengan itu?”
Diguncang-guncangnya
tubuh sang prabu. Namun laki-laki itu tak juga menjawab pertanyaannya. Tubuh
dan seluruh jiwa laki-laki itu seperti telah tersihir oleh ulah sepasang cicak
yang merayap di dinding. Ia merasa dirinya telah dihina. Ia merasa dirinya
dicampakkan.
Cicak-cicak di dinding
Diam-diam merayap …
“Adakah
kau lihat cicak itu, Sayangku?”
Ada
tawa yang tertahan. Ada tangis yang menghujan.
“Aku
melihatnya Kakanda.
Aku juga melihat api yang menjalar di antara cinta dan sumpah dewa-dewa.”
Waktu berlari entah ke mana. Meninggalkan sang prabu dan
wanita yang terbakar api pada matanya. Waktu terus berlari, membawa kesumat dan
sepasang cicak.
------------------------
Cicak-cicak di dinding
Diam-diam merayap …
Malam
mulai tua persendiannya. Bulan terlalu renta untuk menampakkan diri pada malam hari. Waktu berjalan lambat. Jarum
pada jam antik di dinding ruang tamu orang tua itu seakan terlalu berat untuk
berputar. Ada sepasang cicak yang muncul dari balik jam antik itu. Merayap di
dinding lantas begitu saja berhenti. Entah mengapa ia merasa cicak itu seakan
sedang memperhatikannya.
“Maaf,
Pak. Malam-malam begini saya mengganggu Bapak.”
Laki-laki
itu berusaha untuk bersikap sopan kepada
orang tua yang duduk di hadapannya. Orang tua itu hanya manggut-manggut. Pipa
rokoknya begitu erat terapit di antara bibirnya yang coklat. Ada asap yang
mengepul, lantas mengalir seiring alur napasnya yang tua.
Laki-laki
itu menjadi gugup di hadapan ketenangan orang tua itu. Segala susunan kata-kata
yang telah dipersiapkannya dari rumah seolah menguap dan terbang entah ke mana bersama asap rokok yang dihembuskan orang
tua itu.
“Boleh
saya juga merokok, Pak?”
Laki-laki
itu berusaha membunuh ketergugupannya. Ia merasa dengan menghirup rokok akan
menenangkan dirinya. Meredakan ketergugupannya. Orang tua itu hanya
mengangguk-angguk. Sepasang cicak
di dekat jam dinding antik di ruang tamu itu masih belum beranjak dari
tempatnya. Masih diam dan seperti masih menunggu sesuatu yang entah apa.
Laki-laki
itu menyalakan sebatang rokok di jarinya. Menghirupnya dalam-dalam dan
melepaskannya seiring alur napasnya. Ada sesuatu yang sepertinya melapangkan
rongga dadanya. Entah apa.
“Sudah
berapa lama kau bersama dengan anak gadisku?”
Tiba-tiba
orang tua itu bersuara. Begitu berat suara itu dan memaksa laki-laki itu untuk
menjawabnya dengan segala kejujuran yang dimilikinya. Ada berjuta pengalaman
hidup yang mengalir bersama suara itu. Begitu berat menekan pundak laki-laki
itu.
“Sudah… sudah lima tahun, Pak.”
Laki-laki
itu seperti terjebak pada ketergugupannya semula.
“Lalu
apa rencanamu? Kapan kau akan menikahinya?”
“Saya
ingin melamarnya, Pak. Maksud saya, bolehkah saya melamarnya saat ini, Pak?”
Orang
tua itu hanya diam dengan anggukan-anggukannya
yang begitu sulit untuk diterjemahkan. Ada kepulan asap yang mengalir seiring
tarikan napasnya.
“Aku
tak akan menghalangi kalian jika kalian memang berjodoh. Tanyakan saja langsung
kepadanya apakah ia mau untuk kau jadikan istri.”
Orang
tua itu bangkit dari duduknya, melangkah ke belakang dan memanggil seseorang
yang sedari tadi berada di sana. Seorang gadis muncul dari belakang memasuki
ruang tamu itu dan mengambil tempat duduk di hadapan laki-laki itu.
“Bapak
sudah mengatakan sesuatu kepadamu?”
“Bapak
tak mengatakan apa-apa. Ia hanya memanggilku ke depan untuk menemuimu. Kata
Bapak ada yang ingin kau tanyakan kepadaku.”
“Kita
sudah lama bersama. Aku merasa sudah saatnya melamarmu. Maukah kau menjadi
istriku?”
Gadis
itu tak langsung menjawab. Ia sendiri merasa heran mengapa ia tak langsung
menjawab. Ada sesuatu yang entah mengganggu hatinya. Mengganjal di benaknya
dan menahan segala keputusannya.
Laki-laki
itu menjadi gugup kembali. Adakah kebersamaannya selama ini masih dinilai
kurang untuk meyakinkan gadis yang ada di hadapannya? Adakah gadis ini hanya
mempermainkannya, mempermainkan waktu dan harapan yang tumbuh mekar setiap kali
ia menyambangi gadis itu? Pada hirupan asap rokok yang kesekian belum ada juga
jawaban yang keluar dari bibir gadis itu. Pada hirupan asap rokok yang kesekian
laki-laki itu menengadahkan kepalanya melihat jarum jam pada jam antik di
dinding ruang tamu itu. Pada saat itulah ia melihat sepasang cicak tadi masih berada pada tempatnya. Seperti
membatu menunggu waktu dan kepastian yang begitu jemu untuk ditunggu.
“Sumbi,
adakah kau lihat cicak itu, Sayangku?”
“Aku
melihatnya, sedari dulu aku telah melihatnya dan aku juga tahu bahwa kau akan
mengajukan pertanyaan itu kepadaku.”
“Sejak
kapan kau melihatnya?”
“Sejak
sumpah membunuh cinta. Saat api menghanguskan hati yang perih.”
“Apa
yang kau katakan? Aku tak mengerti. Aku hanya ingin memastikan kepadamu. Maukah kau menjadi istriku?”
“Kau
tak mengingatnya? Bahkan pada api yang menyalakan sumpah untukmu, Sayangku?”
“Sudahlah
Sumbi. Maukah kau menjadi istriku?”
“Baiklah.
Jika memang kau ingin agar aku menjadi istrimu. Aku ingin mengajukan satu
syarat untukmu.”
“Mengapa
harus dengan syarat? Tidak cukupkah rasa cintaku kepadamu?”
“Aku
juga mencintaimu. Dan dulupun aku mencintaimu. Aku hanya ingin menjadi lebih
berarti. Aku ingin diriku dianggap dan diperjuangkan. Jika kau sanggup, aku
bersedia untuk menjadi istrimu. Itupun jika kau memang mencintaiku.”
“Aku
mencintaimu. Apa pun akan kulakukan untukmu.”
“Baiklah,
sebelum fajar menyingsing esok hari, bunuhlah seribu cicak untukku.”
Cicak-cicak di dinding
Diam-diam merayap ....


No comments:
Post a Comment