Nirina - libitium

Home Top Ad

Saturday, July 13, 2019

Nirina

Nirina

Nirina, hari sudah sore, sudah waktunya ayah bersijingkat kembali ke rumah, merangkum kembali hati dan jiwa yang begitu patah. Kau tahu putriku? Langit barat begitu sarat mega-mega, ya, begitu jingga. Ayah ingat, warna langit senja seperti itu begitu kau suka. Mungkin nama panjangmu membuatmu berkarakter demikian, karakter yang begitu terpesona ketika menatap warna-warna jingga, terutama hamparan padang senja.
Nirina Moneta Putri, demikianlah enam tahun yang lalu ibumu memberimu nama. Ia, dan sejujurnya juga aku, begitu terinspirasi oleh warna senja lukisan monet, yang dengan ketaksengajaan yang sempurna mencumbu kami dalam imaji-imaji liar dan penuh rona tentang senja. Tak disengaja memang ketika selimut hujan mengguyur seisi kota sekaligus menjelmakan dirinya sebagai pengganggu sejati bagi kekhusukan kencan kami, dengan begitu manis dan dengan ketenangan seorang satria berkuda ia menggiring kami memasuki museum lukisan impresionis itu. Memang hanya tempat itulah yang begitu tepat sekaligus terdekat  untuk berlabuh. Selanjutnya kau pasti sudah tahu, seperti dongeng yang terlampau sering kuceritakan kepadamu, bertemulah kami dengan si monet, si senja yang mencumbu itu.
Nirina anakku, pada waktu sore seperti ini biasanya kau sedang menungguku. Berayun-ayun nyaman di taman kecil depan rumah kita sambil bersenandung-senandung riang tentang kupu-kupu yang lucu. Ketika aku datang, kau pasti langsung menyerbuku, begitu sigap memelukku  dan melabuhkan ciuman-ciuman sayang seorang anak di pipiku. Lantas seperti kau tahu denyar-denyar redup di hatiku, kau mengajakku menemui ibumu, istriku.

Nirina buah hatiku, kata ibu kau tak pernah nakal di rumah, ya? Sambil berceloteh, tangan mungilmu terkadang membantu ibu mencuci sayuran atau terkadang kau bantu ibu menyirami tanaman. Kau benar-benar peri kecilku anakku. Di lain waktu, terkadang kau menggambar. Menggambar apa saja, bunga, kupu-kupu, kastil, boneka, atau apa pun. Tapi seperti sudah tabiatmu, kerap kau torehkan latar senja di balik tiap warna, ya, warna senja, warna senja yang jingga anakku. Masih kata ibumu, kau tak pernah rewel ketika disuruh ibumu minum susu atau ketika disuruh menelan sebutir obat. Sepertinya kau sudah terbiasa, kau sudah sangat paham  dan tahu betapa sayangnya kami kepadamu, begitu juga Ia. Kau hebat anakku, tapi kenapa waktu itu wajahmu kerap pucat beku?


Nirina, tadi sambil berjalan pulang, ayah mampir sebentar di toko donat. Ayah beli beberapa donat kesukaanmu. kau masih ingat? Coklat dengan taburan meses jingga, seperti taburan langit yang kau suka anakku. Dulu ketika kau kubawa ke tempat itu, kau selalu meminta donat dengan jumlah yang lebih kepadaku. Katamu, sebagian ingin kau berikan kepada Uwak Rahman, kakek tua yang selalu melintas di depan rumah kita sambil membersihkan badan jalan dari sampah-sampah dan guguran daun yang mengotorinya. Kau tahu Nirinaku? Tiga hari belakangan ini aku tidak pernah lagi melihatnya. Kudengar dari tetangga-tetangga kita ia sudah kembali ke desa asalnya, dijemput oleh anak-anaknya.


Nirina cinta mungilku, donat tadi kuberikan kepada Kek Rahim si penjaga makam. Tak mengapa, ya, anakku, kau pasti mengizinkannya. Oh, Nirinaku, hari ini ulang tahunmu sayangku. Ayahmu ini begitu rindunya kepadamu. Lihatlah, lihatlah anakku, lihatlah langit barat dengan mega-mega senja kesukaanmu. Begitu senada dengan warna mawar-mawar yang kutabur di pusaramu.


Oh, ya, Nirinaku. Pada waktu sore seperti ini biasanya kau sedang menungguku. Berayun-ayun nyaman di taman kecil depan rumah kita sambil bersenandung-senandung riang tentang kupu-kupu yang lucu.   

No comments:

Post a Comment